Tips Guru Menghadapi Siswa yang Sulit Diatur dengan Pendekatan Edukatif

Setiap guru pasti pernah menghadapi siswa yang sulit diatur di dalam kelas. Ada yang sering berbicara sendiri saat pelajaran berlangsung, tidak mengerjakan tugas, hingga mengganggu teman-temannya. Situasi seperti ini sering membuat suasana belajar menjadi kurang kondusif dan menguras energi guru. Tidak jarang, guru merasa bingung harus bersikap tegas atau justru lebih sabar dalam menanganinya.

Perlu dipahami bahwa perilaku tersebut tidak selalu muncul tanpa alasan. Banyak siswa yang menunjukkan sikap sulit diatur karena sedang menghadapi masalah, merasa kurang diperhatikan, atau tidak tertarik dengan proses pembelajaran. Oleh karena itu, pendekatan yang tepat sangat dibutuhkan agar suasana kelas tetap nyaman sekaligus membantu siswa berkembang ke arah yang lebih positif.

Menghadapi siswa yang sulit diatur

5 Tips Guru Menghadapi Siswa yang Sulit Diatur dengan Pendekatan Edukatif. 

1. Pahami Penyebab Perilaku Siswa. 

Langkah pertama sebelum menegur atau memberi konsekuensi adalah memahami alasan di balik perilaku siswa. Ini penting karena tindakan yang sama bisa memiliki penyebab yang berbeda. Jika guru langsung memberi hukuman tanpa memahami penyebabnya, masalah biasanya akan terus berulang.

Siswa yang terlihat sulit diatur sering kali sebenarnya sedang:

  • merasa tidak diperhatikan

  • tidak paham pelajaran

  • mencari pengakuan

  • atau sedang menghadapi masalah pribadi

Perilaku adalah gejala, bukan akar masalah.

Mengapa memahami penyebab itu penting?

Bayangkan dua siswa sama-sama sering mengobrol saat pelajaran.

  • Siswa A mengobrol karena tidak paham materi

  • Siswa B mengobrol karena ingin mencari perhatian

Jika guru memberi hukuman yang sama, hasilnya bisa berbeda:

  • Siswa A tetap tidak paham → tetap mengobrol

  • Siswa B merasa diperhatikan → malah semakin sering mengganggu

Artinya, solusi harus disesuaikan dengan penyebabnya.


Tanda-Tanda Penyebab yang Umum

1. Kurang Perhatian

Ciri-ciri:

  • Sering mencari perhatian teman

  • Bercanda berlebihan

  • Mengganggu saat guru menjelaskan

Biasanya siswa seperti ini ingin diperhatikan, bukan ingin membuat masalah.

2. Kesulitan Memahami Pelajaran

Ciri-ciri:

  • Tidak fokus saat guru menjelaskan

  • Tidak mengerjakan tugas

  • Cepat menyerah

Mereka sering terlihat malas, padahal sebenarnya tidak percaya diri.

3. Masalah Emosi atau Rumah

Ciri-ciri:

  • Mudah marah

  • Pendiam tiba-tiba berubah aktif mengganggu

  • Nilai turun drastis

Perubahan perilaku mendadak sering menjadi tanda adanya masalah di luar sekolah.

4. Bosan dengan Pembelajaran

Ciri-ciri:

  • Gelisah di kelas

  • Mengobrol terus

  • Tidak tertarik mengikuti pelajaran

Ini bisa menjadi sinyal bahwa metode belajar perlu divariasikan.


Cara Guru Menggali Penyebabnya

Tidak perlu interogasi. Cukup pendekatan sederhana:

  • Ajak bicara santai di luar kelas

  • Gunakan nada ramah, bukan menghakimi

  • Dengarkan lebih banyak daripada berbicara

Contoh kalimat:

  • “Bapak/Ibu perhatikan kamu akhir-akhir ini sering sulit fokus. Ada yang ingin kamu ceritakan?”

  • “Bagian mana dari pelajaran yang paling sulit menurut kamu?”

Sering kali siswa akan terbuka jika merasa aman.


Gambarannya... 

Situasi Tanpa Memahami Penyebab. Rudi sering mengobrol saat pelajaran.

Guru:
“Rudi! Diam! Kalau bicara terus keluar kelas!”

Rudi diam sebentar… lalu mengobrol lagi di pelajaran berikutnya.

Masalah tidak selesai.


Situasi Dengan Pendekatan Memahami Penyebab. Guru memanggil Rudi setelah kelas.

Guru:
“Ibu perhatikan kamu sering ngobrol saat pelajaran. Kamu kesulitan memahami materi?”

Rudi:
“Iya Bu… saya tidak paham dari awal, jadi bingung mau ngapain.”

Ternyata Rudi mengobrol karena tidak mengerti pelajaran.

Solusi yang bisa dilakukan guru:

  • Memberi penjelasan ulang singkat

  • Menempatkan Rudi di kelompok belajar

  • Memberi tugas bertahap

Hasilnya:
Rudi mulai lebih fokus karena mulai paham.


Intinya

Siswa sulit diatur bukan berarti siswa bermasalah. Sering kali mereka hanya belum mendapatkan pendekatan yang tepat. Ketika guru memahami penyebabnya, solusi menjadi lebih mudah, hubungan lebih baik, dan suasana kelas menjadi lebih kondusif.

2. Bangun Hubungan yang Positif dengan Siswa. 

Banyak siswa sulit diatur bukan karena tidak mau belajar, tetapi karena belum merasa dekat atau nyaman dengan gurunya. Ketika hubungan guru dan siswa terasa kaku atau jauh, siswa cenderung tidak peduli dengan aturan kelas.

Sebaliknya, jika siswa merasa dikenal, dihargai, dan diperhatikan, mereka akan lebih mudah diajak bekerja sama.

Hubungan positif membuat siswa merasa:

  • Aman di kelas

  • Dihargai sebagai individu

  • Tidak takut berbuat salah

  • Lebih terbuka terhadap arahan guru

Ketika hubungan sudah baik, teguran ringan pun biasanya cukup untuk membuat siswa kembali fokus.


Cara Membangun Hubungan Positif Secara Nyata

Berikut langkah sederhana yang bisa langsung diterapkan.

1. Sapa Siswa Secara Personal

Hal kecil seperti menyapa sangat berpengaruh. Jangan hanya masuk kelas lalu langsung mengajar.

Contoh:

  • “Selamat pagi, Raka. Sudah sarapan?”

  • “Bagaimana latihan futsal kemarin?”

Menyebut nama siswa membuat mereka merasa dianggap penting, bukan sekadar bagian dari kerumunan kelas.


2. Kenali Minat dan Kepribadian Siswa

Setiap siswa punya minat berbeda:

  • Ada yang suka olahraga

  • Ada yang suka menggambar

  • Ada yang suka game

  • Ada yang suka musik

Ketika guru mengetahui hal ini, siswa akan merasa lebih dekat.

Contoh:
“Pak tahu kamu suka menggambar. Nanti bantu buat poster kelas ya.”

Kalimat sederhana ini bisa meningkatkan rasa percaya diri siswa.


3. Berikan Apresiasi untuk Hal Kecil

Siswa yang sulit diatur sering jarang dipuji. Mereka lebih sering ditegur, sehingga merasa sudah “tercap nakal”.

Mulailah mengapresiasi perubahan kecil.

Contoh:

  • “Hari ini kamu lebih fokus, bagus.”

  • “Terima kasih sudah tidak mengganggu teman.”

Apresiasi kecil → memunculkan motivasi → perilaku membaik.


4. Luangkan Waktu Bicara di Luar Pelajaran

Tidak harus lama. Bahkan 2–3 menit sudah cukup.

Misalnya saat:

  • Jam istirahat

  • Setelah kelas selesai

  • Saat siswa membantu di kelas

Tujuannya bukan menasihati, tetapi mengobrol santai.

Siswa akan melihat guru bukan sebagai “penegak aturan”, tetapi sebagai orang yang peduli.


5. Tunjukkan Empati

Kadang siswa berperilaku buruk karena sedang punya masalah.

Alih-alih langsung marah, coba pahami dulu.

Bandingkan dua respon ini:

❌ “Kamu selalu ribut! Keluar kelas!”
✅ “Kamu terlihat tidak fokus hari ini. Ada yang mengganggu?”

Respon kedua membuka ruang komunikasi.


Gambaran Sederhana Supaya Mudah Dipahami

Bayangkan ada dua kelas dengan siswa yang sama.

Kelas A – Guru Tanpa Pendekatan Personal

  • Guru masuk kelas → langsung mengajar

  • Siswa ribut → langsung dimarahi

  • Siswa salah → langsung dihukum

Akibatnya:

  • Siswa takut, bukan menghormati

  • Siswa tetap ribut saat guru lengah

  • Hubungan kaku dan penuh tekanan

Kelas terasa tegang dan melelahkan.


Kelas B – Guru dengan Hubungan Positif

  • Guru menyapa siswa saat masuk kelas

  • Mengenal nama dan minat siswa

  • Memberi pujian saat siswa berusaha

  • Menegur secara pribadi, bukan mempermalukan

Akibatnya:

  • Siswa merasa dihargai

  • Siswa lebih segan dan menghormati guru

  • Suasana kelas lebih nyaman

  • Teguran ringan sudah cukup efektif

Kelas menjadi lebih kondusif tanpa harus sering marah.


Intinya

Siswa lebih mudah diatur oleh guru yang mereka hormati dan sukai, bukan yang mereka takuti. Hubungan yang baik adalah fondasi dari manajemen kelas yang efektif.

3. Menetapkan Aturan Kelas yang Jelas. 

Banyak masalah kedisiplinan di kelas sebenarnya muncul karena aturan tidak jelas, berubah-ubah, atau tidak ditegakkan secara konsisten. Siswa — terutama anak usia sekolah — membutuhkan batasan yang tegas supaya mereka tahu mana perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Jika aturan tidak jelas, siswa akan:

  • Menguji batas guru

  • Menganggap pelanggaran sebagai hal biasa

  • Bingung terhadap konsekuensi

Sebaliknya, ketika aturan jelas dan konsisten, siswa merasa kelas memiliki struktur dan mereka tahu apa yang diharapkan dari mereka.


Mengapa Aturan Harus Dibuat Bersama Siswa?

Melibatkan siswa saat membuat aturan membuat mereka merasa:

  • Didengar

  • Dihargai

  • Ikut bertanggung jawab

Aturan yang dibuat bersama cenderung lebih dipatuhi daripada aturan yang hanya datang dari guru.


Ciri Aturan Kelas yang Baik

Aturan kelas yang efektif memiliki ciri berikut:

  1. Singkat dan sederhana
    Hindari aturan panjang dan rumit.

  2. Jumlahnya tidak terlalu banyak
    Idealnya 3–5 aturan utama.

  3. Bahasanya positif
    Gunakan kalimat “lakukan” bukan “jangan”.

    Contoh:

    • ❌ Jangan ribut di kelas

    • ✅ Berbicara bergantian dan angkat tangan

  4. Konsisten diterapkan
    Semua siswa diperlakukan sama.


Contoh Aturan Kelas yang Efektif

Misalnya guru menyepakati 4 aturan utama:

  1. Angkat tangan sebelum berbicara

  2. Dengarkan saat orang lain berbicara

  3. Selesaikan tugas tepat waktu

  4. Jaga kebersihan dan kerapian kelas

Aturan seperti ini jelas, mudah diingat, dan mudah diterapkan.


Gambaran Situasi Supaya Mudah Dipahami

Situasi sebelum ada aturan jelas:

Guru sedang menjelaskan pelajaran.
Beberapa siswa:

  • Mengobrol

  • Jalan ke sana kemari

  • Menyela pembicaraan

Guru akhirnya sering berkata:

“Diam!”
“Jangan ribut!”
“Kenapa sih kalian selalu begitu?”

Kelas menjadi tegang, guru lelah, siswa tetap mengulang perilaku yang sama.


Situasi setelah aturan kelas diterapkan:

Di awal semester, guru mengajak diskusi:

“Menurut kalian, supaya kelas nyaman belajar, aturan apa yang kita butuhkan?”

Siswa memberi pendapat, lalu disepakati aturan kelas dan ditempel di dinding.

Ketika ada siswa menyela:
Guru tidak perlu marah. Cukup berkata dengan tenang:

“Ingat aturan nomor 1, kita angkat tangan sebelum berbicara ya.”

Siswa diingatkan tanpa dimarahi.
Kelas tetap kondusif, suasana tetap positif.


Intinya, aturan kelas bukan untuk menakut-nakuti siswa, tetapi untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan terarah. Ketika aturan jelas dan konsisten, guru tidak perlu sering marah, dan siswa lebih mudah disiplin.

4. Hindari Memarahi Siswa di Depan Teman-Temannya. 

Memarahi siswa di depan kelas sering dianggap cara cepat untuk menghentikan perilaku yang mengganggu. Memang kadang terlihat efektif sesaat, tetapi dalam jangka panjang justru bisa menimbulkan masalah baru.

Ketika siswa dimarahi di depan teman-temannya, yang muncul biasanya bukan rasa sadar, tetapi:

  • Malu

  • Tersinggung

  • Marah balik

  • Ingin melawan atau membalas

Akibatnya, hubungan guru dan siswa menjadi renggang, dan perilaku siswa bisa semakin sulit dikendalikan.


Mengapa Teguran di Depan Umum Kurang Efektif?

Ada beberapa alasan mengapa cara ini kurang baik:

  1. Menyerang harga diri siswa
    Anak dan remaja sangat sensitif terhadap rasa malu. Ketika dipermalukan, fokus mereka bukan lagi memperbaiki perilaku, tetapi mempertahankan harga diri.

  2. Memicu perlawanan
    Siswa bisa merasa dipermalukan sehingga memilih bersikap menantang atau tidak peduli.

  3. Membuat suasana kelas tidak nyaman
    Siswa lain bisa ikut takut, tegang, atau justru menertawakan temannya.

Tujuan guru adalah mendidik, bukan mempermalukan.


Cara Menegur yang Lebih Edukatif

Jika ada siswa mengganggu pelajaran, lakukan langkah bertahap:

1. Beri isyarat non-verbal terlebih dahulu

  • Tatap siswa

  • Dekati meja mereka

  • Berhenti berbicara sejenak

Sering kali, siswa langsung menyadari kesalahannya tanpa perlu ditegur.

2. Gunakan teguran singkat dan tenang. Jika perilaku berlanjut, tegur dengan suara normal:

“Tolong fokus kembali ya.”

Tanpa teriak, tanpa emosi.

3. Ajak bicara secara pribadi. Jika masalah sering terjadi, ajak bicara setelah kelas selesai.

Contoh pendekatan:

“Bapak/Ibu perhatikan kamu sering sulit fokus. Ada yang mengganggu? Kita cari solusi bersama ya.”

Nada seperti ini menunjukkan kepedulian, bukan kemarahan.


Gambaran Situasinya. 

Situasi jika dimarahi di depan kelas:

Siswa A mengobrol saat pelajaran.
Guru berkata dengan keras:

“Kamu ini selalu bikin masalah! Keluar dari kelas!”

Siswa A:

  • Merasa dipermalukan

  • Teman-teman menertawakan

  • Mulai tidak suka pada guru

  • Besoknya kembali mengganggu

Masalah tidak selesai, malah bertambah.


Situasi jika ditegur secara edukatif:

Siswa A mengobrol.
Guru mendekat dan berkata pelan:

“Tolong fokus ya, pelajarannya penting.”

Setelah kelas:

“Kamu kelihatan sering tidak fokus. Ada kesulitan dengan materinya?”

Siswa merasa diperhatikan, bukan diserang.
Kemungkinan besar ia akan lebih kooperatif.


Intinya, menegur secara pribadi menjaga harga diri siswa sekaligus menjaga hubungan baik dengan guru. Hubungan yang baik adalah kunci agar siswa lebih mudah diarahkan dan mau berubah.

5. Gunakan Penguatan Positif. 

Salah satu kesalahan yang sering terjadi di kelas adalah siswa yang sulit diatur lebih sering mendapat teguran daripada pujian. Akibatnya, mereka merasa sudah terlanjur dicap sebagai siswa nakal. Ketika sudah merasa seperti itu, motivasi untuk berubah biasanya menjadi rendah.

Penguatan positif adalah cara membangun perilaku baik dengan memberi perhatian pada hal yang benar, bukan hanya pada kesalahan.


Mengapa Penguatan Positif Penting?

Perilaku siswa sangat dipengaruhi oleh perhatian guru. Apa yang mendapat perhatian, biasanya akan diulang.

Jika siswa hanya mendapat perhatian saat:

  • Ribut

  • Melanggar aturan

  • Tidak mengerjakan tugas

Maka tanpa sadar, mereka belajar bahwa cara mendapat perhatian guru adalah dengan berbuat masalah. Sebaliknya, jika guru mulai memberi perhatian saat siswa berperilaku baik, mereka akan terdorong untuk mengulang perilaku tersebut.

Dan penguatan positif tidak harus berupa hadiah. Justru yang paling efektif adalah penguatan sederhana dan konsisten.

Beberapa contoh:

  1. Pujian verbal

    • “Bagus, hari ini kamu lebih fokus.”

    • “Terima kasih sudah mengumpulkan tugas tepat waktu.”

  2. Pengakuan di depan kelas

    • “Hari ini kelompok 3 bekerja sangat rapi.”

    • “Saya senang melihat kalian saling membantu.”

  3. Tanggung jawab kecil
    Siswa yang biasanya sulit diatur bisa diberi kepercayaan:

    • Membagikan buku

    • Menjadi ketua kelompok

    • Menjadi penanggung jawab kebersihan

  4. Isyarat nonverbal

    • Senyum

    • Anggukan

    • Acungan jempol

Hal sederhana ini sering lebih bermakna dari yang kita kira.


Fokus pada Usaha, Bukan Hanya Hasil

Siswa yang sulit diatur sering membutuhkan waktu untuk berubah. Karena itu, hargai usaha kecil mereka.

Contoh:

  • Siswa biasanya tidak mengerjakan tugas → hari ini mengerjakan setengah

  • Siswa biasanya ribut → hari ini bisa tenang 15 menit

Guru bisa mengatakan:

“Ibu lihat kamu sudah berusaha lebih fokus hari ini. Teruskan ya.”

Kalimat seperti ini memberi pesan bahwa perubahan mereka diperhatikan.


Gambaran Situasi Supaya Mudah Dipahami

Situasi tanpa penguatan positif:

Seorang siswa sering ribut. Saat dia diam, guru tidak memberi respons. Saat dia ribut, guru langsung menegur.

Akhirnya siswa berpikir:

“Kalau diam, tidak ada yang peduli. Kalau ribut, baru diperhatikan.”

Perilaku ribut pun terus berulang.


Situasi dengan penguatan positif:

Suatu hari siswa tersebut mencoba lebih tenang.
Guru berkata:

“Terima kasih sudah membantu menjaga kelas tetap tenang hari ini.”

Siswa merasa dihargai. Besoknya, ia mencoba mengulang perilaku baik itu lagi. Perubahan kecil mulai terjadi.


Intinya, penguatan positif membantu siswa merasa dihargai, dipercaya, dan termotivasi untuk berubah. Dengan fokus pada hal baik yang mereka lakukan, guru bisa perlahan mengurangi perilaku yang mengganggu di kelas.

Cukup sekian dan semoga bermanfaat dan mudah dipahami. Terimakasih.

Posting Komentar untuk "Tips Guru Menghadapi Siswa yang Sulit Diatur dengan Pendekatan Edukatif"